Aku bukan seorang pecinta sepakbola, bahkan aku melihat sepakbola sebagai permainan kaum adam yang sia-sia. “untuk apa berlari-lari di lapangan lebar, berebut bola?” *permainan yang aneh* kataku dalam hati.
Penasaran, itu awalnya, aku tanya beberapa temanku apakah mereka suka sepakbola, dan club manakah yang mereka gandrungi, mayoritas menjawab El Barca, Barcelona… “Kenapa?” Tanyaku ingin tahu. Mereka menjawab karena Lionel Messi. “Siapa dia?” rasa ingin tahuku mengelitik. Anda juga ingin tahu? Ini sekilas tulisan yang menyatakan betapa aku, seorang ‘anti sepakbola’, mencoba membuka hati dan belajar dari Lionel Messi, seorang murid yang rendah hati yang selalu bermain bersama Sang Guru.
Lionel Andrés Messi lahir di Rosario, 24 Juni 1987 adalah seorang pemain sepak bola asal Argentina. Posisinya adalah penyerang. Saat ini ia memperkuat FC Barcelona di La Liga (Liga Spanyol). Kemampuannya sering membuatnya dijuluki sebagai “Diego Maradona baru”, ‘El Messias’, ‘Yang Fenomenal’.
Pada awalnya pemain bertinggi badan 169 cm ini beraksi di klub Grandoli, klub asuhan Jorge Messi yang tak lain adalah ayah Messi. Kemudian ia beralih ke Newell’s Old Boys. Namun klub ini tidak sanggup membayar biaya terapi hormon yang harus secara rutin dia jalani untuk mengobati penyakit hormonal yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan badan Sang Bintang ini, yang mencapai 500.000 pounds setiap bulannya. Untunglah Barcelona segera menangkap potensi hebat Messi dan menawarinya pindah ke Spanyol untuk bergabung bersama klub Katalan ini plus membiayai seluruh biaya terapi.
“Saya hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk yakin bahwa dia memang seorang bintang masa depan.” ucap pelatih Barcelona kala itu, Carles Rexach. “Sepanjang karir saya selama 40 tahun, tak pernah saya melihat seorang pemain yang benar-benar bertalenta. seseorang dengan pengetahuan sepak bola minim pun akan bisa menyadari kemampuan hebat messi.”
Bakatnya menarik perhatian dunia sewaktu beraksi bersama tim nasional sepak bola Argentina di Piala Dunia Remaja dan Barcelona pada tahun 2005. Pada tahun 2006 dia berhasil membantu Barcelona sebelum mengalami cedera dalam perlawanan perempatfinal menentang Chelsea di Liga Champions. Messi yang mempunyai tubuh yang agak kecil ini sangat lincah di atas lapangan dan kerap membuka ruang kepada rekan-rekannya yang memburu gol.
Bahkan 14 gol terakhirnya ia dapatkan hanya dalam lima laga terakhir bersama Barca. Lebih hebatnya Messi dalam dua pekan beruntun di La Liga, mampu mencetak hat-trick saat menang 3-0 dari Valencia dan adalah trigolnya saat Barca mengalahkan Real Zaragoza. Sebuah pencapaian yang sangat gemilang dan sekali lagi membuktikan Messi pantas diganjar gelar pemain terbaik Eropa dan Dunia tahun lalu.
Namun, Sang Murid memilih untuk tetap rendah hati menanggapi pujian dari pelatih dan presiden Barcelona mengenai penampilannya. ‘’Saya sudah tegaskan jika semuanya ini adalah kerja tim. Tim ini telah melakukan tugasnya dengan baik dan kami berjuang bersama sepanjang waktu, dan dengan sedikit keberuntungan saya dapat mencetak gol. Kami semua bekerja keras, fight dan pantang menyerah, jadi kami semua pantas mendapat kredit,’’kata Messi.
Dilain kesempatan Messi tidak lupa memperingatkan rekan-rekan satu timnya untuk hati-hati dan tetap bermain bagus di pertandingan-pertandingan mereka selanjutnya.”Kami selalu mencoba untuk pergi ke setiap pertandingan dengan rendah hati. Tahun lalu kami beruntung bisa memenangkan semuanya, tapi tahun ini kita memulainya lagi dari nol dan kami harus bekerja keras untuk memenangkan gelar,” tambah Messi.
Nyata sudah, Messi tidak lebih dari seorang murid yang menanti di pantai sebuah danau menunggu datangnya Sang Guru agar meluncur dua kata, “Itu Tuhan”. Dan kembali menegaskan “Inilah aku. Utuslah aku!” Amati saja setiap laga yang dilakoni Barca, ada sederet kata yang mengabarkan setiap kemenangan. ”Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (fiat mihi secundum verbum tuum). Ini aksioma dari taktik indah teruji Barca.